Hai nama ku
Annisa Rahma. Dari lahir aku selalu dibenci oleh orang yang ada di dekatku.
Bahkan sampai sekarang tidak ada yang mau berteman denganku. Mereka membenci ku
karna keadaanku, aku terlahir sebagai anak miskin,bertubuh cacat (hanya
mempunyai satu setegah kaki) dan tidak punya ayah. Sebenarnya aku punya ayah
tapi entah kemana ayah pergi aku tak tahu dan ibuku telah meninggal ketika aku
berumur tiga tahun. Maka dari itu aku selalu dibenci dengan orang lain.
Aku
tinggal bersama nenek ku di sebuah rumah kardus kecil dan kumuh di daerah
tempat pembuangan akhir (TPA), nenek ku adalah orang yang paling aku sayang
karna dia yang merawat ku dari kecil dan satu-satunya orang yang tidak membenci
aku. Dari kecil aku sudah bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup ku dan nenek
ku, aku juga tidak pernah merasakan indahnya duduk di bangku sekolah, yaaah
maklumlah keadaan ekonomi memaksa ku untuk tidak bersekolah, meskipun aku tidak
sekolah aku selalu belajar dikit demi sedikit dari buku yang kadang aku temukan
di sampah.
Aku
sempat berpikir dan bertanya pada nenek ku “nek,kenapa hidup ku ini terasa
keras dan tak adil. Aku hidup miskin! Tidak mempunyai kaki! Dan tidak ada orang
yang mau berteman dengan ku! Aku ingin mempunyai kehidupan seperti
mereka,seperti remaja-remaja pada umumnya! Mereka tidak pernah bersusah payah memikirkan
susahnya mencari uang untuk kebutuhan hidup mereka, mereka mempunyai tubuh
lengkap, memiliki banyak teman dan orang tua lengkap! AKU MENYESAL HIDUP
SEPERTI INI,TUHAN TAK ADIL PADA KU!
Dengan
sabar dan sambil tersenyum nenek pun menjawab “kenapa harus menyesali hidup mu
nak, hidup tidaklah sekeras itu. Kamu memang mempunyai banyak sekali kekurangan
tapi dibalik itu kamu juga punya banyak kelebihan. Memang mereka lebih
beruntung dibandingkan kamu, tapi apakah mereka juga memiliki banyak kasih sayang
dikehidupannya seperti kamu? Mungkin tidak. Bersukurlah dengan hidup yang kamu
miliki sekarang,tuhan memberikan mu keadaan seperti ini bukan karna dia tidak
adil,tapi dia ingin kamu belajar memaknai hidup ini”
Aku
pun terdiam seketika dan merenungi omongan nenek barusan, mungkin nenek benar
harusnya aku tidak perlu sesengsara ini meratapi hidup harusnya aku dapat
memaknai hidup ini dan belajar untuk masa depan ku nanti. Aku pun juga harus
percaya bahwa takdir gak bisa nentuin segalaya dan roda pasti berputar, mungkin
sekarang ini aku berada dibawah tapi suatu saat nanti aku akan berada diatas.
Suatu hari ada beberapa
relawan datang ke daerah rumah ku, mereka berkunjung selama 3 hari. Mereka
orang yang sangat baik, selama 3 hari mereka berkunjung mereka membantu banyak
hal, contohnya mereka memberi bantuan makanan yang sangat banyak, fasilitas
rumah tangga, mengajarkan kami belajar, dan yang paling aku senang adalah
mereka memberikan bantuan sekolah gratis kepada kami yeeeeeay. Aku merasa
senaaang sekali, dan aku membayangkan dengan bersekolah aku bisa mendapat
banyak teman.
Kini waktunya
bagiku masuk ke sekolah untuk menuntut ilmu dan mencari teman. Tetapi apa
hasilnya? Ternyata sekolah tidak seperti yang aku bayangkan, sama saja di
sekolah yang aku dapatkan hanyalah ejekan dari anak-anak yang lain, aku pun
juga masih tidak mempunyai teman. Tujuanku bersekolah adalah menuntut ilmu.
Tapi, aku terlahir dengan kemampuan yang payah. Jadi, apa yang aku lakukan
untuk menjadi hebat di sekolah selalu mengalami kegagalan. Tapi aku tidak akan
menyerah untuk melangkah maju. Aku terus berusaha agar aku menjadi pintar.
Walaupun hasilnya selalu mengecewakan, aku tidak akan pernah menyerah.
Saat pulang
sekolah aku berniat untuk jalan-jalan di pasar. Saat aku berhenti di sebuah
toko mainan, aku merasa tertarik dengan salah satu baarang dagangan yang ada
disitu yaitu boneka hello kitty yang dipajang di depan toko tersebut. “Waaah ada
boneka hello kitty bagus sekali.” Ucapku dengan rasa senang. Tiba-tiba si
penjaga toko tersebut keluar dan meyuruhku pergi. “Pergi sana! anak miskin bertubuh
cacat tidak berguna, jangan dekat-dekat toko ku!. Pasti kamu tidak akan mampu
membeli barang-barang yang ada disini!.” Jawab penjaga toko tersebut. “Tapi aku
hanya melihat-lihat saja Paman. Aku juga sadar diri bahwa aku tidak akan mampu
membeli barang disini.” Jawabku. “Alaaah banyak alasan!! Saya tau kamu
menginginkan boneka ini, sudah jangan lama-lama disini, ambil saja bonekanya,
cepat pergii !!” Jawab penjaga toko dengan melemparkan boneka itu ke arahku.
“Paman aku bukanlah sampah tempat kau membuang boneka ini, aku adalah Annisa,
aku memang anak cacat yang tidak berguna tapi bukan berarti paman bisa
menginjak-injak harga diri ku!” Teriak ku pada penjaga toko tersebut. Lalu aku
lari menjahui toko itu dan pulang.
Saat aku pulang
nenek pun sudah menunggu ku di depan rumah. “assalamualaikum nek” “waalaikumsalam
nak, gimana sekolahnya tadi? Pasti menyenangkan kan?” dengan wajah sedih aku
pun menjawab “enggak nek, sama saja aku tidak mendapatkan teman malah mendapat
banyak ejekan” “sudah sudah gapapa pasti nanti kamu akan mendapat banyak teman
kok” “mungkin” berjalan degan muka sedih dan meninggalkan nenek.
Suatu sore, saat aku sedang berjalan di dekat sungai, aku melihat ada seorang
anak yang duduk di tepi sungai tersebut. Dia terus melihatku. Dengan menatap
matanya aku merasakan bahwa dia mengerti akan perasaan dan keadaan yang aku
alami sekarang. Sejujurnya aku ingin sekali untuk berhenti dan berbicara
dengannya. Tapi aku malu untuk memulai berbicara dengannya. Hingga pada
akhirnya, aku memutuskan untuk tetap berjalan dan pergi darinya.
Keesokan
harinya, aku bertemu dengannya lagi disekolah. Setelah aku perhatikan dia
sangat sangat keren, sehingga para anak perempuan di sekolah tergila-gila
dengannya. Dalam pelajaran di sekolah pun dia juga termasuk anak yang pintar.
Sehingga dia membuatku semakin iri dengannya. Sejak saat itulah aku menganggap
dia adalah saingan ku.
Saat
pertama dia di sekolah aku sangat membencinya. Tapi pada suatu hari saat aku di
bully oleh Diki dan kawan-kawannya yang terkenal paling berkuasa di sekolah, “heeh
anak cacat ngapain kamu ada di sekolah ini, kamu anak miskin gak pantes sekolah
disini!” ujar diki sambil menyenggol tongkat ku “emang orang cacat dan miskin
gak boleh sekoah apa? Aku kan juga pingin belajar!” saut ku “ya enggak lah,
emang mampu bayar?hahaha” ujar teman Diki. Aku hanya terdiam dan menagis, tiba-tiba
dia datang untuk menolongku.
Sambil mengulurkan tangan “jangan
nangis, ayo sini aku bantu berdiri” “Diki! Gak seharusnya kamu menghina dia.
Semua orang berhak sekolah, bukan berarti dia cacat dia gak boleh belajar.”
Tanpa menghiraukan perkataan cowok yang ada di sungai
Diki pun langsung pergi meninggalkan ku dan cowok itu, lalu dia membantu ku
berdiri dan mengambilkan tongkat ku. Saat aku melihat dia membela aku perasaan
benci yang aku rasakan seketika hiang.
Mulai saat itulah aku berkenalan
dengannya secara resmi.
“Oh iya, kita belom kenalan ya. Kenalin nama ku
Christian Xavindra aku kelas X-MIA1. Kamu bisa manggil aku Tian kok” ujarnya sambil
mengulurkan tangan.
“Ooooh… ternyata
namanya adalah Christian Xavindra” saut ku dalam hati
“kenalin, aku Annisa Rahma aku kelas X-MIA3 kamu bisa
manggil aku Nisa” jawabku sambil membalas uluran tangannya.
Sejak saat itulah kami menjadi
teman dan anggapanku sebagai saingan ku telah hilang ditelan waktu.
Aku
dan Tian pun bercerita tentang banyak hal. Ternyata Aku dan Tian memiliki
beberapa kesamaan, pertama aku dan tian sama-sama suka makan bakso,yang kedua
kita sama-sama senang menggambar, yang ketiga kita sama-sama bercita-cita
menjadi penulis terkenal, kita juga sama-sama suka dengan Raditya Dika.
Kita suka
Raditya Dika karna dia itu hebat! Dia adalah seorang penulis terkenal dan
hebat, selain itu dia bisa membuat film dari novel yang ia tulis sendiri dan
dia juga ikut berperan dalam film itu. Raditya Dika adalah seorang yang humoris,
ia selalu bisa membuat orang tertawa dalam film maupun dalam novelnya. *loh kok
jadi cerita tentang Raditya Dika sih? Yuk balik
kecerita aku* hehehe
Ternyata gini ya rasanya punya
temen,kalo kata nom nom gowes sih SENENG BIGGOW haha *itu artinya seneng
banget* karena akhirnya perjuanganku untuk mencari teman tidaklah berakhir
dengan kegagalan. Ini adalah kali pertama aku mempunyai teman, makanya aku
masih kaku saat berteman dengan Tian.
Saat
bersama dengan Tian aku merasa tidak sendirian lagi. Sewaktu di sekolah aku dan
Tian sedang berada di kantin.
“Nisa, kamu mau makan apa? Aku traktir ya, aku lagi
dapet uang saku lebih dari mama ku nih” ujar Cristian
“Apa aja deh, terserah kamu” jawab ku
“Bakso aja ya”
ujarnya lagi
“Iya, terserah” jawab ku.
Setelah Tian memesan bakso, dia
langsung duduk didekat ku. Aku mau menanyakan sesuatu, sebenarnya udah lama aku
mau menanyakan hal ini tapi mungkin baru kali ini saat yang tepat.
“Tian?”
aku memanggilnya
“iya,
apa Nis” jawabnya sambil memainkan handphonenya.
“aku
boleh nanya gak?” saut ku
“iya,
mau Tanya apa?” jawabnya mulai agak serius.
“tapi
jangan marah yaaa” ujar ku.
“iya
Nisaaaaa, mau Tanya apa siih” jawabnya sedikit jengkel.
“Kamu
kenapa mau temenan sama aku?” Tanya ku.
“hahaha
kirain mau Tanya apa, sampe serius kaya gini” jawabnya sambil tertawa
“aku
emang Tanyanya serius tiaan” jawab ku jengkel”
“ya
soalnyaaaa…”
Tiba-tiba pesanan baksonya dating
di meja ku dan Tian.
“udah-udah
gak usah dibahas, aku mau makan aku laper” ujarnya.
“yaaaah,
jawab dulu dong” jawab ku dengan nada kecewa
“iya,
habis makan aja ya” jawab Tian sambil mengunyah baksonya
Kami pun makan bersama, tapi ada yang masih mengganjal dan
tidak enak pada hati ku karna aku masih penasaran dengan jawaban Tian.
Setelah makan aku langsung
mendesak Tian untuk menjawab pertanyaan ku tadi.
“Tiaaan”
“apa?”
Sautnya.
“ayo
jawaaaaaaabbb” Tanya ku.
“kamu
mau aku menjawab sekarang”
“IYA
IYA IYA!” jawab ku dengan nada antusias
“Oke,
kamu tau kenapa aku mau berteman dengan kamu?” Tanya Tian
“enggak,
emang kenapa?” saut ku
“karna menurut ku kamu beda sama perempuan yang lain.
Kamu perempuan yang kuat, kamu perempuan yang selalu bersyukur sama keadaan,
kamu juga gak manja” Jawab Tian.
“tapi…. Apa kamu gak malu punya temen yang cacat dan
miskin kaya aku?” Tanyaku.
“kenapa harus malu? Justru aku bangga sama kamu” saut
tian.
Bel pun berbunyi menandakan
waktunya pulang sekolah. Kami pun bergegas ke kelas untuk mengambil tas dan
pulang ke rumah masing-masing.
keesokan
harinya, kebetulan di kelas ku kedatangan murid baru dari luar kota yang hanya
menetap sementara disini, namanya Rafa Prasetya,kita bisa memanggilnya Rafa. Awalnya
kami menganggap bahwa Rafa anak yang baik, tapi lama kelamaan kami sangat
terkejud ketika melihat sikapnya yang sangat buruk itu muncul. Sikapnya sungguh
sangatlah aneh dihadapanku. Ketika aku sedang susah mencari teman, dia malah
meremahkan teman. Tapi mungkin dia belum terbiasa sekolah disini.
Sewaktu
di kantin, saat Rafa sedang minum tiba-tiba Christian lewat lalu tidak sengaja menjatuhkan
air minum dan menumpahkannya ke baju Rafa. Emosi Rafa langsung meledak. Rafa
hendak menjatuhkan gelas kaca tersebut ke kaki Tian, untung ada aku tahu
kejadian itu. Aku segera berlari dan melindungi Tian. Pecahan beling itu
melukai tangan dan kaki ku. Walaupun sakit, tapi demi Tian akan aku lakukan
segalanya.
Rafa
bertanya padaku. “Kenapa kau melindungi dia, sedangkan dia tidak pernah
menolongmu??” akupun menjawab “Karena dia adalah temanku.” Setelah menjawab
pertanyaan tersebut aku segera pergi ke UKS untuk mengobati lukaku ,tapi
setelah aku melihat ke belakang ternyata Rafa termenung. Entah apa yang dia
pikirkan.
Setelah
2 bulan lamanya Rafa bersekolah disini, aku melihat perkembangan Rafa sejak
kejadian waktu aku melindungi Tian dulu. Rafa yang sekarang menjadi lebih
penyayang dan perhatian pada temannya. Setelah beberapa bulan, tak terasa pula
kini tiba saatnya Rafa untuk pindah ke kota yang lain untuk pergi dengan
ayahnya. Sebelum dia pergi kami sempat bertemu dan berbicara sebentar sambil mengucapkan
selamat tinggal.
“Annisa terima
kasih atas pelajaran yang kau berikan padaku..” Ucap Rafa dengan mata yang
berkaca-kaca.
“Ada apa kamu
kok sedih gitu? Haa?? Memangnya aku pernah berbuat apa sama kamu Raf??” Jawabku
dengan heran.
“Dulu bagiku
teman hanyalah sebuah kata yang kecil dan tidak bermakna. Tapi setelah aku
bertemu denganmu, aku mengerti betapa berharganya arti kata tersebut.” Saut
Rafa.
“Alhamdulillah,
akhirnya kamu ngerti juga. Aku juga ikut senang bisa membantumu. Dulu aku tidak
punya teman sama sekali. Saat aku melihatmu dulu, aku tak pernah bayangkan
bagaimana usaha ku untuk mendapat seorang teman saja. Sedangkan kamu hanya bisa
meremehkan mereka. Maka dari itu aku bahagia karena sekarang kamu bisa
menghargai teman.” Jawabku.
“Terima kasih
Annisa. Kamu memang teman yang baik”
Sejak
saat itu aku mulai merasakan hidup yang sesungguhnya karena bisa menghargai dan
dihargai oleh teman yang dulu tak sempat aku dapatkan. Akhirnya aku mengerti,
teman adalah suatu ikatan, ikatan yang sangat kita butuhkan dalam hidup. Berkat
teman kita bisa mengerti indahnya hidup dan berkat teman kita bisa melakukan
semua hal yang tak terduga.
Hari demi hari
pun cepat berlalu, tak terasa UNAS pun sudah dekat dihadapan kita, seperti
biasa, aku selalu melewati setiap hari ku dengan Tian. Saat mendekati UNAS aku
dan Tian lebih giat belajarnya. Aku yang lemah dibidang pelajaran matematika
selalu takut dan resah untuk menghadapi ujian matematika yang sebentar lagi
akan aku hadapi.
Sebagai
sahabat yang baik Tian pun memberi ku semangat dan selalu mengajari aku
matematika, meskipun kadang aku lama banget untuk mengerti :D, tapi dengan
sabar Tian terus ngajarin aku.
“Tian, gimana nih bentar lagi UNAS tapi aku masih gak
bisa matematika” ujar ku gelisah.
“bukannya kamu gak bisa, tapi belom bisa” jawabnya
“ya sama aja keleees” jabab ku sedikit jengkel
“ya udah deh iya, makannya belajarnya lebih giat lagi
biar bisa ngerjain soalnya nanti” ujar Tian.
“oke deeeh, tapi bantu aku ya kalo aku gak bisa” jawab
ku
“iya, santai aja” jawab Tian.
Akhirnya UNAS
pun berlangsung hari pertama aku bisa mengerjakan dengan baik dan tenang, tapi
saat hari kedua dan pelajarannya matematika aku pun kaget dan langsung gelisah
karna soal yang dikeluarkan sangat tak kubayangkan. Soalnya sangat susah dan banyak
yang tidak aku mengerti “haaduuuuh gimana ini soalnya susah banget banyak yang
gak ngerti lagi” ujar ku dalam hati.
Aku pun mengerjakan soal UNAS
matematika ini sangat tidak tenang, *Ting Tung Ting Tung* bel pun berbunyi menandakan
waktu ulangan sudah selesai. Saat mengumpulkan kertas ulangan aku pun sangat
sedih dan hanya bisa pasrah apa hasil ulangan ku nanti “aaaaa gimana ini, aku
ada yang belum selesai. Ya udah aku isi terserah aja,pasrah aja”
Aku pun keluar
dari kelas dan berhenti di depan gerbang sekolah untuk menunggu Tian. Tak lama
Tian pun keluar, tian pun bertanya kepada aku
“Nis gimana UNASnya tadi? Bisa gak?”
“Yaaah tau sendiri kan aku sekarang gimana” menjawab
dengan muka sedih. “Loh kok sedih sih? Emangnya kamu tadi kenapa?”
“aku tadi gak bisa, aku ngerjainnya gak tenang” jawab
ku
“loh kok bisa? Ya udah gapapa, berdoa aja yang banyk
semoga nilainya bagus. Udah gak usah sedih lagi” jawab Tian
“hmmm iya deh J” jawabku dengan tersenyum.
UNAS pun sudah
kita lewati, sambil menunggu hasil UNAS kita di beri waktu liburan selama 1
minggu. Sambil mengisi liburan aku diajak Tian berlibur ke Bandung bersama
keluarganya.
Libur pun
berlalu, aku sangat deg degan menunggu hasil UNAS ku. Aku dan tian pun menunggu
di lorong dekat mading yang akan di tempel kertas hasil ujian, tak lama ada
guru yang datang dan membawa kertas hasil ujian. Aku pun langsung mendekati
mading dan meninggalkan Tian. Saat hasil ujian di tempel yang pertama aku
mencari nama ku, dan tak ku sangka nama CHRISTIAN adalah peringkat pertama.
Wooooow! Tian keren banget, jari ku terus menunjuk kebawah dan aku lebih tidak
menyangka bahwa aku LULUS dan BERADA DI PERINGKAT 5. Aaaaaah! Aku seneng
bangeet!
Aku keluar dari
kerumunan siswa kelas 12 yang ingin melihat hasil ujiannya dan langsung mencari
Tian, setelah bertemu Tian aku mau ngerjain dia hahaha. Dia tanya ke aku
“Kita lulus
kan?”
dengan wajah
berpura-pura sedih aku menjawab “kita gak lulus”
“serius?” ujar
Tian yang sangat kaget.
Dengan lantang aku menjawab
“KITA LULUS TIAAAAAAN! AKU CUMAN NGERJAIN KAMU, KAMU
DI PERINGKAT PERTAMA SEDANGKAN AKU DI PERINGKAT LIMA”
Dengan wajah ingin marah tian
menjawab
“Nisaaaaa rese banget sih kamuuu”
“Hahaha kasian banget sih mau aja dikerjain” jawab ku dengan
tertawa tebahak bahak.
Setelah lulus
aku dan Tian memilih Universitas yang berbeda, Alhamdulillah aku masuk di UI
dan memilih jurusan sastra Indonesia sedangkan Tian dia masuk di ITB dan
memilih jurusan sastra jepang. Ini pertama kalinya aku gak ngelewatin semua
hari ku sama Tian. Hampir 3 tahun aku dan Tian tidak bertemu, meskipun tidak
bertemu kita masih tetep berhubungan loo, aku sama Tian tetep cerita tentang
hari-hari kita.
Suatu hari,
Tian telfon aku.
*kriiiing kriiiing* “Hallooo”
“Hallo, Tiaaaan? Aaa kangen banget udah lama gak
ketemu kamu. Apa kabar kamu?” saut ku.
“sama nih, aku juga kangen sama kamu, baik kok. Kalo
kamu gimana?” jawab Tian
“Baik juga kok” jawab ku
“Syukurlaaah, gimana kamu sekarang? Ciye gaya udah
jadi anak sastra di UI. Pasti enak banget ya disana” Tanya Tian.
“gak gimana-gimana sih, hahaha apaan sih. Kamu juga
kan udah jadi anak sastra di ITB, sastra jepang lagi :p. Enak banget disini aku
punya banyak temen baru. Kalo kamu gimana? Oh iya denger denger kamu udah
ngeluarin novel ya? Ciyeeee cita-cita kewujud ciyeee” jawab ku.
Kami pun terus bercerita panjang
di telfon, sampai-sampai kuping ini rasanya panas banget. Tapi gapapa lah,
jarang banget bisa telfon lama kaya gini soalnya kita udah sibuk sama tugas
kita masing-masing, oh iya Tian gak berubah. Dia tetep di sukai banyak cewek di
sekolahnya *maklum lah dia kan keren* ,
dia juga dapet bea siswa S2 di jepang looo. Waaah keren ya, aku juga gak mau
kalah sama Tian aku juga lagi nulis beberapa novel yang gak lama lagi mau aku
terbitin.
Aku cerita
bahwa selama aku di UI dan aku berusaha ngewujudin cita-cita aku sebagai
penulis terkenal, yap aku sekarang mulai menulis untuk beberapa novel yang gak
lama akan aku terbitin. Sedangkan Tian cerita kalau dia tetep jadi anak yang di
puji-puji banyak cewek dan dia juga dapet bea siswa kuliah di jepang. Waah
hebat ya, oh iya Tian juga udah ngeluarin novel karangan dia sendiri loo.
Setelah lama gak ketemu,akhirnya
aku ketemu sama Tian. Kita ketemu diacara reuni, aku gak cuma ketemu Tian aku
juga ketemu Rafa. Kita duduk dimeja yang sama, disitu kita saling cerita tentang
kesuksesan kita masing-masing, kita bercanda-canda ngomongin hal-hal konyol
yang pernah kita lakuin dulu, kita juga cerita banyak hal yang menarik setelah
lama gak ketemu. Banyak perbedaan dari kita, mulai dari penampilan,muka
pokoknya banyak deh.
Oh iya, Rafa sekarang udah sukses
juga dia jadi chef terkenal lo dan dia udah punya restoran sendiri. Kalau ada
waktu, aku sama Tian mau diajak makan bareng di restorannya dan aku sama Tian
pun setuju. Lumayan lah bisa makan gratisan wkwkwk
Dari pertrmuan di reuni, kita
berencana bikin kerja sama bareng hohoho, karna aku sama Tian seorang penulis.
Aku akan bikin buku tentang perjalanan hidup kita, kalo Tian bikin buku tentang
suksesnya Rafa jadi chef terkenal yang punya resto sendiri, kalo Rafa yaa di
cukup kasih kita makan gratis di restonya tiap hari hahaha jangan deh kasian
kalo bangkrut nanti.
Dari banyak hal yang aku lewati
di hidup ku ini,bagi ku teman bukan hanya sekedar kata atau ucapan. Tapi teman adalah
satu hal yang paling bermakna dan sangat indah di hidup ini, teman juga
mengajarkan banyak hal, teman juga membantu kita menuju kesuksesan. Tanpa teman
hidup gak akan berarti,tanpa teman kita gak akan pernah ngersain rasanya
berbagi, tanpa teman dunia kita gak akan berwarna.
Sekarang aku udah ngerasain
gimana rasanya punya temen, hidup ku berubah. Semua gelap dan suram hidupku
dulu udah berganti jadi jutaan warna yang sangat indah. Aku bisa nunjukin ke
semua orang yang selalu membenci dan meremehkan ku dulu bahwa “Annisa Rahma
seorang gadis miskin yang sudah tidak mempunyai orang tua,yang hanya tinggal
bersama neneknya di sebuah rumah kecil dan kumuh di tempat pembuangan akhir
(TPA) dan tidak mempunyai teman telah berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi
PENULIS SUKSES dan dikenal banyak orang” .
THE END